TUGAS 6 PRINSIP PRINSIP MANAJEMEN KELAS
TUGAS 6
PRINSIP PRINSIP MANAJEMEN KELAS
1. Pengertian prinsip dalam manajemen kelas
Prinsip-prinsip manajemen kelas
mengandung pengertian yaitu, proses pengelolaan kelas untuk menciptakan
suasana dan kondisi kelas yang memungkinkan siswa dapat belajar secara
efektif (Rachman, 1999:11).
Pengelolaan kelas juga
dapat diartikan sebagai segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan
suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat
memotivasi siswa untuk belajar dengan baik dan sesuai dengan kemampuan
(Ahmad, 1996:).
Jadi dapat disimpulkan
bahwa prinsip dasar pengelolaan kelas adalah pegangan atau acuan yang
dimiliki pokok dasar berfikir atau bertindak bagi seorang pendidik dalam
usaha menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal serta
mengembalikan kondisinya bila terjadi gangguan dalam proses
pembelajaran. Tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas
dapat bekerja dengan tertib sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai
secara efektif dan efisien.
Dalam manajemen kelas terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan
sebagai prasyarat menciptakan satu model pembelajaran yang efektif dan
efisien, yaitu (Muhaimin,2002:137-144):
Transfer merupakan suatu proses dimana sesuatu yang pernah dipelajari
dapat memengaruhi proses dalam mempelajari sesuatu yang baru. Dengan
demikian, transfer berarti pengaitan pengetahuan yang sudah dipelajari
dengan pengetahuan yang baru dipelajari. Pengetahuan atau keterampilan
yang diajarkan di sekolah selalu diasumsikan atau diharapkan dapat
dipakai untuk memecahkan masalah yang dialami dalam kehidupan atau dalam
pekerjaan yang akan dihadapi kelak.
1. Prinsip Kesiapan (Readiness)
Kesiapan belajar ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, psikis, inteligensi, latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar.2. Prinsip Motivasi (Motivation)
Motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Adanya motivasi pada peserta didik maka akan bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasa ingin tahu yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar, berusaha keras dan memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut serta terus bekerja sampai tugas-tugas tersebut terselesaikan.3. Prinsip Perhatian
Perhatian merupakan suatu strategi kognitif yang mencakup empat keterampilan yaitu berorientasi pada suatu masalah, meninjau sepintas isi masalah, memusatkan diri pada aspek-aspek yang relevan dan mengabaikan stimuli yang tidak relevan. Dalam proses pembelajaran perhatian merupakan faktor yang besar pengaruhnya.4. Prinsip Persepsi
Prinsip umum yang perlu diperhatikan dalam menggunakan persepsi adalah (a) makin baik persepsi mengenai sesuatu makin mudah peserta didik belajar mengingat sesuatu tersebut. (b) dalam pembelajaran perlu dihindari persepsi yang salah karena hal ini akan memberikan pengertian yang salah pula pada peserta didik tentang apa yang dipelajari (c) dalam pembelajaran perlu diupayakan berbagai sumber belajar yang dapat mendekati benda sesungguhnya sehingga peserta didik memperoleh persepsi yang lebih akurat.5. Prinsip Retensi
Retensi adalah apa yang tertinggal dan dapat diingat kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu. Dengan retensi membuat apa yang dipelajari dapat bertahan atau tertinggal lebih lama dalam struktur kognitif dan dapat diingat kembali jika diperlukan. Karena itu, retensi sangat menentukan hasil yang diperoleh peserta didik dalam proses pembelajaran.
6. Prinsip Transfer
Transfer merupakan suatu proses dimana sesuatu yang pernah dipelajari
dapat memengaruhi proses dalam mempelajari sesuatu yang baru. Dengan
demikian, transfer berarti pengaitan pengetahuan yang sudah dipelajari
dengan pengetahuan yang baru dipelajari. Pengetahuan atau keterampilan
yang diajarkan di sekolah selalu diasumsikan atau diharapkan dapat
dipakai untuk memecahkan masalah yang dialami dalam kehidupan atau dalam
pekerjaan yang akan dihadapi kelak.
2. Permasalahan dalam prinsip manajemen kelas
Ada dua jenis masalah
pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan atau individual dan
yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan atau
individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar
dipisahkan yang satu dari yang lain. Namun demikian, pembedaan antara
kedua jenis masalah itu akan bermanfaat, terutama apabila guru ingin
mengenali dan menangani permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi
tanggung jawabnya. Masalah pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1) Masalah Individual
Penggolongan masalah
individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia
itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan.Setiap individu memiliki
kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika
seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya
berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis
penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang
lain,mencari kekuasaan, menuntut balas dan memperlihatkan ketidak
mampuan. Keempat tingkah laku ini diurutkan makin lama makin berat.
Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain boleh
jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
a) Attention getting behaviors
(pola perilaku mencari perhatian) : Seorang siswa yang gagal menemukan
kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling
menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari
perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang
aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer,
melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus
menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku destruktif
pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang malas
atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
b) Powerseeking behaviors (pola
perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan) : Tingkah laku mencari
kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam.
Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan
adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan
orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka.
c) Revenge seeking behaviors
(pola perilaku menunjukkan balas dendam) : Siswa yang menuntut balas
mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia
sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan,
penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap
sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering
dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau
dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam
pertandingan).
d) Helplessness (peragaan ketidak
mampuan): Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa
amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu
rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang
menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya
hanyalah kegagalan yang terus menerus.Perasaan tanpa harapan dan tidak
tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan tingkah laku mengundurkan
atau memencilkan diri.Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini
selalu berbentuk pasif.
2) Masalah Kelompok
a) Kurangnya kekompakan :
Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan
(konflik) diantara para anggota kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari
kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam
kategori kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang
siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh
adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti
ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka
tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa
tidak saling bantu membantu.
b) Kesulitan mengikuti peraturan
kelompok : Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak
mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang
kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan
kelompok.Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku
mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara
keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta
tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau
menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
c) Reaksi negatif terhadap sesama
anggota kelompok : Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi
apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota
kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang
menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat
kegiatan kelompok.Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian
“dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
d) Penerimaan kelas (kelompok)
atas tingkah laku yang menyimpang : Penerimaan kelompok (kelas) atas
tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong
timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang
dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah
perbuatan memperolok-olokan, misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu”
tentang guru.Jika hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah
perorangan telah berkembang dan masalah kelompok kelihatannya lebih
perlu mendapat perhatian.
3. Kebijakan tentang prinsip manajemen kelas
1. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (SISDIKNAS) Pasal 51 ayat 1 menyatakan bahwa “ Pengelolaan
satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan
prinsip manajemen berbasis sekolah atau madrasah. “
2. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005
PP No. 19 Tahun 2005
tentang Standar Pendidikan Nasional Pasal 49 ayat 1 mengemukakan bahwa “
Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan
kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.”
3. Permendiknas No. 19 Tahun 2007
Permendiknas No. 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan memuat secara terperinci tentang :
a) Perencanaan Program
b) Pelaksanaan Rencana
c) Pengawasan dan Evaluasi
d) Kepemimpinan Sekolah atau Madrasah
e) Sistem Informasi Manajemen
f) Penilaian Khusus
DAFTAR PUSTAKA
Mudasir. 2011. Manajemen Kelas.Yogyakarta: Penerbit Zanafa Publishing.
Sutikno Sobry. 2008. Manajemen Pendidikan Langkah Praktis Mewujudkan Lembaga Pendidikan yang Unggul. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Bermanfaat sekali
BalasHapusTerimakasih kak, materinya bermanfaat sekali
BalasHapusSangat membantu
BalasHapusBagus materinya
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusMantul👍👍👍
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusMaterinya bagus, terima kasih
BalasHapus