tugas 6 manajemen kelas

TUGAS 6 

PENDEKATAN DALAM MANAJEMEN KELAS

 
   A.    Pengertian Pendekatan Dalam Manajemen Kelas
              Pendekatan pembelajaran diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang dalam dalam proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang bersifat umum. Adapun pendekatan merupakan unsur penting yang harus dikuasai pengajar sebelum mempersiapkan perencanaan .      
              Sebagai pekerja profesional, seorang guru harus mendalami kerangka acuan pendekatan-pendekatan kelas, sebab didalam penggunaannya ia harus terlebih dahulu meyakinkan bahwa pendekatan yang dipilihnya untuk menangani sesuatu kasus pengelolan kelas merupakan alternatif yang terbaik sesuai dengan hakikat masalahnya. Artinya seorang guru terlebih dahulu harus menetapkan bahwa penggunaan sesuatu Artinya seorang guru terlebih dahulu harus menetapkan bahwa penggunaan sesuatu pendekatan memang cocok dengan hakikat masalah yang ingin ditanggulangi. Ini tentu tidak dimaksudkan mengatakan bahwa seorang guru akan berhasil baik setiap kali menangani kasus pengelolaan kelas. Sebaliknnya, keprofesionalan cara kerja seorang guru adalah demikian sehingga apabila alternatif tindakannya yang pertama tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan, maka ia masih mampu melakukan analisis ulang terhadap situasi untuk kemudian tiba pada alternatif pendekat yang kedua dan seterusnya
Pendekatan : adalah usaha / upaya dalam rangka aktivitas yang dilakukan untuk mengadakan hubungan dengan sesuatu yang menjadi objeknya (siswa) melalui interaksi timbal balik.
Managemen kelas :  pengelolaan, penyelenggaraan, keterlaksanaan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan 
Pendekatan yang dilakukan oleh seorang guru dalam managemen kelas akan sangat dipengaruhi oleh pandangan guru tersebut terhadap tingkah laku siswa, dan situasi kelas pada waktu seorang siswa melakukan penyimpangan. Keharmonisan hubungan guru dan siswa, tingginya kerjasama di antara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas.
Pendekatan yang dipilih guru senantiasa diselaraskan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. pendekatan pada dasarnya dielompokkan menjadi dua yaitu pendekatan managerial dan pendekatan psikologikal. Tetapi dalam makalah ini yang dibahas hanya pendekatan dalam kelompok managerial.

  B.     Sikap Guru Dalam Manajemen Kelas

Guru sebagai pengelola kelas sudah menerapkan tiga pendekatan dalam pengelolaan kelas yaitu pendekatan kekuasaan, pendekatan pengajaran dan pendekatan kerja kelompok. Pendekatan kekuasaan seperti yang diuraikan oleh Djamarah ( 2006 : 179 ) guru menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut siswa untuk mentaatinya. Di dalam kelas ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Pendekatan pengajaran, pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam perencanaan dan pelaksanaannya akan mencegah munculnya masalah tingkah laku siswa dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan kerja kelompok, dalam pendekatan ini guru menciptakan kondisi – kondisi yang memungkinkan kelompok yang produktif, selain itu guru juga harus dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik. Ketiga pendekatan tersebut oleh guru digabungkan digunakan untuk mengelola kelas. Sehingga tercipta pendekatan elektis atau pluralistic. Menurut Djamarah ( 2006 : 18 ) Pendekatan elektis yaitu guru kelas memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapi dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi yang lain mungkin mengkombinasikan ketiga pendekatan tersebut. Penggabungan ketiga pendekatan ini dimaksudkan untuk menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi proses belajar mengajar bejalan efektif dan efisien.

Sumber: https://www.sekolahdasar.net/2009/06/sikap-guru-dan-pendekatan-yang.ht
Menurut Djamarah (2006 : 185) hendaknya guru harus bersikap:
1.      Hangat dan antusias, guru yang hangat dan akrab pada siswa akan menunjukan antusias pada tugasnya.
2.      Menggunakan kata – kata, tindakan, cara kerja dan bahan – bahan yang menantang akan meningkatkan kegairahan siswa untuk belajar
3.      Bervariasi dalam penggunaan alat atau media pola interaksi antara guru  dan siswa.
4.      Guru luwes untuk mengubah startegi mengajarnya
5.      Guru harus menekankan pada hal – hal yang positif dan menghindari
6.      Guru harus menekankan pada hal – hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal – hal yang negative
7.      Guru harus disiplin dalam segala hal 
   C.    Peran Guru Dalam Manajemen Kelas
Salah satu tugas guru sebagai pendidik di sekolah adalah sebagai menajer. Seorang guru harus mampu memimpin kelasnya agar tercipta pembelajaran yang optimal. Fasilitas dan kondisi kelas merupakan salah satu factor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Menurut Padmono (2011 : 23) fasilitas kelas (instrumental in put) berkaitan erat dengan terciptanya lingkungan belajar (environmental in put) kondusif sehingga murid dengan senang dan sukarela belajar. Penataan fasilitas dapat menjadi pendorong jika diorganisir secara baik. Di sinilah peran guru SD dapat terlihat, adapun peran guru dalam memanajemen kelas agar tercipta pembelajaran yang efektif sebagai berikut :
1.      Peran guru dalam pengorganisasian kelas
Organisasi kelas yang tepat akan mendorong terciptanya kondisi belajar yang kondusif. Pengorganisasian kelas ini pada dasarnya bersifat lokal, artinya organisasi kelas tergantung guru, kelas, murid, lingkungan kelas, besar ruangan, penerangan, suhu, dan sebagainya.
2.      Peran guru dalam pengaturan tempat duduk
Penataan kelas sebagaimana diuraikan pada pengorganisasian kelas ditata fleksibel yang mudah diubah sesuai pembelajaran yang akan dikembangkan guru.
3.      Peran guru dalam pengaturan alat-alat pelajaran
Alat-alat pelajaran dapat klasifikasikan menjadi beberapa kelompok, antara lain: Menurut kedudukannya; alat pelajaran dibedakan atas permanen dan tidak permanen. Permanen jika alat pelajaran tersebut diletakkan di kelas secara terus menerus, misalnya: listrik, papan tulis, dan sebagainya. Alat pelajaran tidak permanen atau yang bergerak (movable) yaitu alat pelajaran yang dapat dipindah, misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin, peta, dan sebagainya. Menurut fungsinya; a) alat untuk menulis; kapur, papan tulis, pensil, dan lain-lain; b) alat-alat lukis; jangka, meter, segitiga, buku.
4.      Peran guru dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
Kelas yang indah akan memberikan rasa nyaman dan membuat anak betah belajar di dalam kelas. Kelas yang diharapkan mengundang anak untuk betah berada di dalamnya hendaknya dijaga kebersihan dan keindahannya. Guru memiliki peran untuk mengorganisir siswanya agar dapat mendesain kelasnya menjadi kelas yang indah. Guru dapat membimbing siswa untuk mendesain kelas menjadi indah seperti menata buku sesuai dengan ukurannya, menempelkan gambar – gambar di ruangan kelas
    D.    Macam Macam Pendekatan Dalam Manajemen Kelas
Menurut Syaiful Bahri, pendekatan tersebut meliputi pendekatan kekuasaan, pendekatan ancaman, pendekatan kebebasan, pendekatan resep, pendekatan pembelajaran , pendekatan perubahan tingkah laku, pendekatan suasana emosi dan hubungan sosial, pendekatan proses kelompok dan pendekatan elektis atau pluralistik. 
1.      Pendekatan Kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik. Peranan guru disini adalah menciptkan dan mempertahankan situasi disiplin kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada peserta didik untuk menaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dalam norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itulah guru mendekatinya.
Di dalam kegiatan pembelajaran, factor kedisiplinan adalah kekuatan utama untuk dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif, karena itu guru perlu menekankan pentingnya peserta didik untuk menaati peraturan yang telah dibuat sebelumnya. Berbagai peraturan itu ibaratnya adalah “penguasa” yang wajib untuk ditaati. Oleh sebab itu, guru harus mampu melakukan pendekatan yang baik kepada peserta didik melalui peraturan ini, dan bukan kemauannya sendiri. Alangkah lebih baik jika sebelum memulai mengajar, guru membuat kesepakatan-kesepakatan dengan peserta didik mengenai keharusan untuk menaati aturan. Namun, tak hanya peserta didik, guru juga harus konsisten mengikuti segala peraturan yang ditetapkan agar tidak timbul kecemburuan diantara para peserta didik.
2.      Pendekatan Ancaman
Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku peserta didik dilakukan dengan cara memberikan ancaman, misalnya, melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa. Ancaman disini sepatutnya tidak dilakukan sesering mungkin dan hanya diterapkan manakala kondisi kelas sudah benar-benar tidak dapat dikendalikan. Selama guru masih mampu melakukan pendekatan lain di luar ancaman, maka akan lebih baik jika pendekatan dengan ancaman ini ditangguhkan. Namun satu hal yang harus diingat,pendekatan ancaman harus dilakukan dalam taraf kewajaran dan diusahakan untuk tidak melukai perasaan peserta didik. Guru mungkin perlu memberi ancaman seperti penangguhan nilai, pemberian tugas tambahan, serta memberikan tugas-tugas lain yang sifatnya mendidik bagi mereka. Ancaman dalam bentuk intimidasi yang berlebihan, seperti mengejek, membanding-bandingkan, memukul dan memaksa, sebaiknya difikirkan ulang sebelum diterapkan. Sebab ancaman seperti itu sangat mungkin dapat melukai perasaan peserta didik serta menyebabkan mereka semakin bertindak represif di dalam kelas. Sindiran halus juga dapat dilakukan oleh guru terhadap peserta didik yang kurang menaati aturan. 
3.      Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan diartikan sebagai suatu proses untuk membantu peserta didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan peserta didik, selama hal itu tidak menyimpang dari peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama. Terkadang, peserta didik tidak nyaman apabila ada seorang guru yang terlalu over-protectif sehingga peserta didik tidak leluasa melakukan eksperimennya.Jika memberikan tugas kepada peserta didik untuk menuliskan beberapa pengalaman, maka berilah mereka kebebasan untukmenceritakan apa saja yang mereka tuliskan. Jangan membuat ketentuan-ketentuan yang terlalu ketat yang karenanya dapat mengekang kebebasan peserta didik untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya.
4.      Pendekatan Resep
Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar ini digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.
5.      Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran akan dapat mencegah munculnya masalah tingkah laku peserta didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku peserta didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik. Oleh karena itu buatlah perencanaan pembelajaran yang matang sebelum masuk kelas dan patuhilah tahapan-tahapan yang sudah dibuat sebelumnya. Hindari kebiasaan mengajar dengan apa adanya, apalagi tanpa perencanaan yang matang. Pembelajaran yang dilakukan secara sistematis tentu dapat membuat peserta didik terhindar dari kejenuhan, karena mereka dapat mengikuti pelajarannya secara bertahap. Sebaliknya peserta didik akan cepat lelah apabila mereka tidak faham alur pembelajaran yang disampaikan gurunya, sehingga materi yang mereka pelajari cenderung membingungkan.
6.      Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
Pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku peserta didik dari yang kurang baik menjadi baik. 
7.      Pendekatan Suasana Emosi dan Hubungan Sosial
Pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dansuasana sosial (socio-emotional climate approach) di dalam kelas sebagai kelompok individu cenderung pada pandangan psikologi klinis dan konseling (penyuluhan). Menurut pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Suasana emosional dan hubungan sosial yang positif, artinya ada hubungan yang baik dan positif antara guru dengan peserta didik, atau antara peserta didik dengan peserta didik. Di sini guru adalah kunci terhadap pembentukan hubungan pribadi itu, dan peranannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang sehat.
8.      Pendekatan Proses Kelompok
Pendekatan kerja kelompok dengan model ini membutuhkan kemampun guru dalam menciptakan momentum yang dapat mendorong kelompok-kelompok di dalam kelas menjadi kelompok yang produktif. Disamping itu, pendekatan ini juga mengharuskan guru untuk mampu menjaga kondisi hubungan antar kelompok agar dapat selalu berjalan dengan baik.
9.      Pendekatan Elektis atau Pluralistik
Pendekatan elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreativitas, dan inisiatif wali/ guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan. Pendekatan elektis disebut juga pendekatan pluralistic, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang memungkinkan kegiatan pembelajaran berjalan efektif dan efisien.
10.  Pendekatan Teknologi dan Informasi
Pendekatan teknologi dan informasi dalam pengelolaan kelas berasumsi bahwa pembelajaran tidak cukup hanya dengan kegiatan ceramah dan transfer pengetahuan, bahwa pembelajaran yang modern perlu memanfaatkan penggunaan teknologi dan informasi di dalam kelas. Guru perlu memahami dalam pembelajaran teknologi dan informasi tidak hanya terfokus pada teknologi komputer saja, guru juga berkepentingan untuk memilih dan menentukan teknologi dan informasi apa yang di butuhkan. Pembelajaran berbasis teknologi dan informasi akan mempermudah proses pembelajaran.
Dari beberapa pendekatan diatas, guru bebas memilih dan menggabungkan berbagai pendekatan sesuai dengan kemampuannya untuk menumbuhkan kegiatan pembelajaran yang efektif. Pendekatan pembelajaran digunakan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Daftar pustaka
Djamarah, Syaiful Bahri, 2006, Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka
Cipta.

Komentar

Komentar

Posting Komentar